Langsung ke konten utama

Aktivis Mekanis dan Organis (latepost) ketua PAC IPNU Boyolangu Tulungagung Jawa Timur Indonesia

Aktivis Mekanis dan Organis

Oleh: FIKRI IMANULLAH

"Tidak penting siapa yang mengatakan, yang penting adalah apa yang dikatakan. Tidak penting apa yang dikatakan, yang penting adalah apa yang diperbuat"

Interpretasi makna aktivis sangatlah beragam. Begitupun penulis memiliki interpretasi tersendiri terkait makna aktivis. Bagi penulis, seseorang yang melakukan gerakan-gerakan sosial menuju sebuah perubahan sosial itulah aktivis. Aktivis tidak hanya disandang oleh mahasiswa tetapi semua elemen masyarakat yang memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat suatu bangsa. Dan makna memperjuangkan bukan berarti hanya mampu mengkritisi permasalahan suatu bangsa melainkan memberikan solusi dengan tindakan nyata. Disinilah "intelegency" seorang aktivis memainkan perannya.

Ketika membicarakan aktivis maka akan bersinggungan erat dengan aspek pendidikan dan solidaritas sosial. Menurut Harbert Spancer, seorang tokoh filosuf Inggris terkemuka mengungkapkan bahwa "the great aim of education is not knowledge but action".Bagaimana sebuah tindakan nyata menjadi tujuan tertinggi dalam ranah pendidikan. Dan tindakan akan lebih bermakna ketika dilengkapi dengan solidaritas sosial.

Durkheim seorang pencetus sosiologi modern membagi solidaritas sosial dalam dua bagian yaitu mekanis dan organis. Dalam sebuah tesisnya yang berjudul "the division of labor society" mengatakan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sama melainkan pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka tergantung antara yang satu dengan yang lain.

Baik mekanis maupun organis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Perbedaan yang sangat ketara pada kemampuan dan perasaan yang sama ataukah tidak. Terstruktur ataukah tidak. Jika organis dibentuk oleh deferensiasi sosial yang butuh struktur yang jelas sedangkan mekanis dibentuk oleh kepercayaan, perasaan dan kebiasaan yang sama maka solidaritas organis mengarah pada bentuk masyarakat yang teratur dan terstruktur namun individualistik sedangkan mekanis sebaliknya.

"Solidaritas sosial organis sering kita jumpai dalam dunia kerja dan masyarakat perkotaan sedangkan solidaritas mekanis pada masyarakat pedesaan"

Akan tetapi pembagian solidaritas tersebut bukan berarti tidak dapat disatukan dalam sebuah masyarakat, khususnya komunitas ataupun organisasi. Nah, disinilah peran intelegensia aktivis mengidentifikasi dan merespon lingkungannya sehingga dapat berjalan dengan harmonis. Jika sebuah organisasi dan komunitas berawal dari kepercayaan dan perasaan yang sama maka itulah yang harus dijaga jangan sampai dihilangkan dalam spirit berorganisasi agar tidak tereduksi dalam sebuah kepentingan tertentu. Namun patut disadari bahwa organisasi dan komunitas tidak bisa lepas dari sebuah kerja profesionalitas. Yang mana bekerja sesuai dengan kemampuan (dalam hal ini adalah divisinya) sehingga perlu adanya struktur ataupun kelompok kerja (kopja) demi menunjang kinerja sebuah organisasi.

Penulis yang pernah terjun dalam sebuah organisasi ekstra kampus yang sedikit banyak merasakan asam-manisnya dunia aktivis kampus. Tepatnya PMII "Peradaban" Abu Dzar Al-Ghifari STAI Diponegoro Tulungagung. Kemudian penulis mengambil langkah lain dalam dunia aktivisnya yaitu menjadi salah satu deklarator dari terbentuknya sebuah komunitas yaitu Kelompok Masyarakat Sadar Wisata Cokro Kusumo Wajakkidul Tulungagung dan sampai saat ini aktif dalam komunitas tersebut.

Dari dulu sampai saat ini, penulis merasakan pola-pola yang hampir sama dalam dunia aktivis kampus. Pertama, terlalu sibuk dalam urusan internal organisasinya. Kedua, lebih sering sebagai organisasi massa daripada sebagai "agent of change". Semua tenaga seakan-akan terfokus pada jenjang kaderisasi tanpa adanya output yang jelas dan kongkrit. Meski begitu penulis tidak menafikkan adanya beberapa kader yang bisa melampaui pola itu dengan cara mengikuti komunitas lain seperti jurnalis, komunitas budaya, komunitas hobbi, kelompok riset dan lain sebagainya. Namun kadangkala dari sekian kader tersebut non aktif dalam organisasi ekstranya.

Disinilah lagi-lagi "intelegency" seorang penggerak memainkan perannya. Dengan memperhatikan tujuan PMII yaitu "terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia" seharusnya mempunyai penafsiran yang beragam sesuai kebutuhan penggeraknya sehingga grand desain kaderisasinya-pun seharusnya kontekstual dan dinamis.

Penulis merasakan bahwa kader-kader sebuah organisasi seperti perpaduan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Sehingga cara memperlakukannya pun beragam, baik dengan mekanis maupun organis. Kadangkala dalam keadaan tertentu penting sekali bekerja secara terstruktur namun di keadaan tertentu pula kerja terstruktur perlu diabaikan. Semuanya tergantung pada ikatan emosional yang terbentuk dalam sebuah organisasi. Dan ikatan emosional hanya akan terbentuk jika ada komunikasi dan empati dalam bingkai solidaritas sosial.

Dalam tinjauan akademik, mahasiswa ekonomi syariah dilengkapi dengan kemampuan dasar ilmu Sosial agamis dan Entrepreneurship. Jika kita lihat dari aspek ini maka sewajarnya "organisatoris economies" melakukan gerakan-gerakan sosial berbasis akademik. Bukan hanya mengajarkan cara membuat laporan praktikum, mengerjakan tugas kuliah bersama dan membuat seminar-seminar melainkan melampaui itu semua. Perlu diingat, melampaui bukan berarti membuat kegiatan-kegiatan yang lebih besar melainkan memiliki daya efek yang besar kepada masyarakat serta jelas dan kongkrit. Bahkan akan lebih baik jika ada keberlanjutannya. Kadangkala kegiatan-kegiatan yang dipandang sederhana memiliki efek yang luar biasa daripada yang menggunakan dana besar seperti seminar ataupun workshop.

Dalam tinjauan lain, ada beberapa mahasiswa yang "jengah" terhadap akademiknya. Kejengahan tersebut seringkali membuat mereka totalitas dan loyalitas tanpa batas. terhadap organisasinya. Organisatoris seperti ini seringkali mendominasi organisasi ekstra kampus. Meski interpretasi totalitas dan loyalitas sangatlah beragam akan tetapi mereka patut diapresiasi keberadaannya karena memang tidak dapat dipungkiri keberadaan mereka membuat organisasi terasa hidup.

Dalam tinjauan minat dan bakat, ada beberapa mahasiswa organisatoris yang menemukan keluarga baru dalam sebuah "sayap" organisasinya. Baik dalam lingkup bidang, divisi maupun badan semi otonomnya. Kadangkala mahasiswa seperti ini tidak begitu memperdulikan kinerja organisasinya. Mereka lebih siap sedia kepada "keluarga barunya" ketimbang organisasinya. Karena mungkin disana mereka mendapatkan kenyamanan tersendiri sehingga menjalankan sesuatu pun tak perlu disuruh. Ikatan yang terbentuk secara alami dan kultural ini menjadi warna tersendiri dalam sebuah organisasi.

Ketiga karakter "organisatoris economies" diatas merupakan perspektif pengalaman penulis. Dan perlu diingat bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mengintervensi sebuah organisasi melainkan dipahami sebagai khasanah keberagaman pandangan seseorang dalam melihat suatu hal. Jadi, sepakat ataupun tidak bukan masalah bagi penulis. Karena memang tulisan ini tidak bertujuan untuk menghaslkan kesimpulan sebuah solusi permasalahan ataupun tantangan. Bukan pula untuk mengkerucutkan jalan sehingga hanya satu jalan yang dapat ditempuh.

Meskipun ketiga karakter tersebut sesuai dengan pandangan pembaca. Penulis pun hanya mampu menawarkan sebuah konsep. Bukanlah sebuah langkah-langkah yang baku dan tersistematis. Karena memang penulis menyadari bahwa setiap manusia memiliki intelegensia-nya. Dengan intelegensia tersebut penulis percaya bahwa suatu saat akan menemukan fomulasi terbaik dengan cara mereka sendiri.

Penulis hanya berharap mereka tidak lagi berfikiran bahwa ketidak-aktifan mereka sebagai seleksi alam sebelum mereka melakukan identifikasi kader melalui komunikasi dan empati terlebih dahulu. Sehingga Asas tidak bersalah harus dijunjung tinggi dalam memperlakukan kader. Dengan begitu mereka akan saling introspeksi diri.

Kini saatnya organisatoris economies mulai memikirkan dan melakukan langkah-langkah strategis untuk bisa merangkul ketiga karakter tersebut sehingga dapat berjalan harmonis dalam sebuah organisasi. Kadangkala bernostalgia dengan keterpurukan ataupun kesuksesan masa lalu sangatlah penting. Namun jangan berhenti disitu. Langkah kita adalah maju kedepan sambil sekali-sekali menengok kebelakang untuk menuju organisatoris economies yang bermakna dan bermanfaat.

Hotel Istana
Tulungagung, 06 April 2019, 06.42 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuan, Visi Dan Misi IPNU-IPPNU PAC Boyolangu periode 2018-2020

Tujuan, Visi Dan Misi IPNU-IPPNU Tujuan Mempersatukan antar pelajar umum dan pelajar santri Mengumpulkan anak-anak Nahdlatul Ulama’ Mengembangkan pengetahuan keagamaan dan umum Mempersiapkan pemimpin NU dan bangsa di masa depan. Mengembangkan Syariat agama islam menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Visi Terwujudnya pelajar yang bertaqwa kepada allah SWT, berahklakul karimah, menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi, memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap tatanan masyarakat berkeadilan demokrasi atas dasar ajaran islam ahlussunnah Wal Jama’ah. Misi Pembinaan dan pemberdayaan terhadap para pelajar  dan santri dalam memahami Ahlussunah Wal jamaah, serta mempengaruhi pihak-pihak terkait dengan intensif membina dan mensosialisasikan peran sosial masyarakat kepada para pelajar dan santri di lingkup boyolangu melek teknologi Informasi dan komunikasi terkini melek politik Dan melek anggaran baik di tingkat desa maupun tingkat diatasnya melek ekonomi M...

Teks Doa Pembuka dan Penutup dalam Acara

Teks Doa Pembuka dan Penutup dalam Acara Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Marilah sejenak kita bersama-sama menundukkan kepala, bermunajat kepada tuhan agar kegiatan kita hari ini diberkahi dan bisa berjalan dengan lancar. bagi yang beragama islam, marilah bersama-sama Membaca ummul kitab : Al-fatihah bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma solli 'ala muhammad. Wa’ala alimuhammad. Ya Allah Ya Rahmat, pada hari ini,  di aula hotel front one ini kami hendak menyelenggarakan acara sosialisasi pengembangan industri dan jasa pariwisata kabupaten Tulungagung dengan memohon ridha dan izinmu.  berkahilah semua langkah dan perbuatan kami dan jadikanlah itu semua nilai ibadah dan nilai ilmu yang bermanfaat kepada kami. ya allah ya Wahid, engkau yang maha satu dan maha mempersatukan kami mohon perkuatlah persatuan diantara kami, janganlah engkau biarkan ada perpecahan diantara kami. kami ingin kuat dalam persatuan itu agar lebih bermanfaat untuk agama, negara...

Ranting dan komisariat se Kecamatan Boyolangu PAC Boyolangu

Komisariat Boyolangu 1 SMK Islam Boyolangu☑️ 2 SMK NU Tulungagung☑️ 3 SMA Negeri 1 Boyolangu🔛 4 SMKN 3 Boyolangu🔛 5 SMKN 2 Boyolangu🔜 6 SMKN 1 Boyolangu🔜 7 SMK Sore Tulungagung🔜 8 SMK Siang Tulungagung🔜 9 SMK Veteran Tulungagung🔜 10 SMK Perwari Tulungagung🔜 11 SMKN 1 Tulungagung ⭕ 12 SMK Kesehatan Brawijaya Tulungagung🔜 13 MAN 1 Tulungagung 14 MAN 2 Tulungagung 15 MTSN 1 Tulungagung 16 Ranting Boyolangu 1 Boyolangu☑️ 2 Pucungkidul 3 Ngranti☑️ 4 Kendalbulur 5 Bono☑️ 6 Waung☑️ 7 Moyoketen☑️ 8 Gedangsewu☑️ 9 Sobontoro 10 Beji☑️ 11 Tanjungsari 12 Serut 13 Kepuh 14 Karangrejo☑️ 15 Kandenan 16 Wajaklor 17 Wajakkidul 18 Sanggrahan☑️ 19 Talapan 20 Kedungsingkil 21 Mojo